Selamat Datang

Selamat datang di Blog Pengajian Bremen, portal informasi bagi masyarakat muslim berbahasa Indonesia/Melayu di kota Bremen, Bremerhaven, Oldenburg, dan sekitarnya.

Saat ini Blog Pengajian Bremen masih dalam tahap konstruksi. Rencana kedepannya, blog ini insyaAllah akan diperkaya dengan konten-konten berikut:
– Artikel-artikel yang ditulis oleh masyarakat muslim di Bremen dan sekitarnya
– Informasi bagi umat muslim di Jerman, khususnya di Bremen
– Informasi produk halal di Jerman, khususnya di Bremen
– Dan lain-lain

Undangan Silaturahmi dan Sholat Idul Adha 1433H

Assalamu’alaykum warahmatullah wa barakatuh,

Bersama ini diberitahukan kepada segenap masyarakat Indonesia di wilayah Bremen dan sekitarnya, bahwa kami menyelenggarakan acara Sholat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1433H yang kemudian akan dilanjutkan dengan silaturahmi dan ramah tamah. Acara insyaAllah akan dilaksanakan pada:

Hari/tanggal
Jum’at, 26 Oktober 2012

Waktu
Pukul 08.30 CEST

Tempat
Musholla Al-Azhar
Woltmerhauserstr. 464/466
28197 Bremen
(petunjuk arah terlampir di bawah)

Khatib/Imam
Ust. Amru Rizal Razani (data singkat terlampir di bawah)

Demikian undangan kami sampaikan, atas kehadiran dan kontribusinya kami ucapkan terima kasih.

Wassalam,
a.n. Pengurus Pengajian Bremen

 
 

Lampiran: Petunjuk Arah ke Musholla Al-Azhar
Dari Bremen Hbf naik Bus 24 arah Rablinghausen, turun di Woltmershauser Friedhof, lalu jalan ± 100 meter ke arah Hbf, rumah di sebelah kanan.

Peta:

 
 

Lampiran: Curriculum Vitae Ust. Amru Rizal Razani
Data Diri:
1. TTL: Pontianak, 6 Oktober 1977
2. Status: Menikah
3. Alamat: Bischofsholer Damm 85, 30173 Hannover

Riwayat Pendidikan:
1. KMI Darussalam Gontor lulus tahun 1997
2. Institut Teknologi Bandung (S1 Computational Mathematics) lulus tahun 2002
3. TU Braunschweig (S2 Computational Science and Engineering) lulus tahun 2012
4. FFI Hannover (Wiss. Mitarbeiter) sejak Agustus 2012

Pengalaman Organisasi:
1. Takmir Pengajian Muslim Braunschweig
2. Sekretaris Forkom Jerman
3. Wakil Ketua Bidang Informasi Kalam Göttingen (www.kalam-goettingen.de)

Tentang Shalawat dan Syafaat

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan

1. Sholawat

Sholawat adalah bentuk jamak (plural) dari Sholat yang artinya Do’a. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW mengandung pengertian berdoa kepada Allah Swt agar Nabi Muhammad SAW dan keluarganya selalu dilimpahkan kesejahteraan dan keberkatan. Tujuan dari membaca sholawat agar kaum muslimin mendapatkan syafaat (syafa’atul Uzhma) di akherat nanti. Dasarnya ialah firman Allah Swt:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. (الأحزاب (56).

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab (33): 56)

Perintah di dalam firman Allah SWT di atas adalah bersifat umum, tidak dijelaskan waktu dan caranya. Oleh karena itu kaum muslimin dapat memanjatkan sholawat kapanpun dan dimanapun berada. Dan yang paling utama adalah membaca sholawat ketika beribadah. Dengan demikian membaca sholawat untuk Nabi dan kelauarganya ada 2 macam:

  1. Membaca sholawat ketika sholat. Hukum membaca sholawat ini adalah wajib dan harus menggunakan kalimat yang dicontohkan oleh Nabi, yaitu berdasarkan hadits:عَنْ حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ أَنَّهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. (رواه مسلمArtinya: “Diriwayatkan dari Abu Humaid as-Sa‘diyyi, sesungguhnya mereka berkata: Ya Rasulullah, bagaimana kami bershalawat atas engkau? Rasulullah SAW menjawab: katakanlah olehmu (lafadznya terdapat pada hadits di atas), yang artinya: ‘Wahai Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu atas Muhammad, dan atas istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana yang telah Engkau limpahkan kepada Ibrahim, dan limpahkanlah berkat-Mu atas Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana yang telah Engkau limpahkan kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia’.” [HR. Muslim].عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ فَقَالَ سَأَلْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. (متفق عليه

    Artinya: “Diriwayatkan dari Ka‘ab bin ‘Ujrah, kami bertanya kepada Rasulullah SAW, kami berkata: Ya Rasulullah, bagaiamana bershalawat atasmu Ahlul Bait? Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada kami bagaimana mengucapkan salam kepada engkau. Rasulullah SAW berkata, katakanlah olehmu: (lafadz terdapat pada hadits di atas), yang artinya: ‘Wahai Allah, limpahkanlah kemurahan-Mu kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah melimpahkan kepada Ibrahim dan keluarganya. Wahai Allah, limpahkanlah berkat-Mu kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana yang telah Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Mulia’.” [Muttafaq Alaih].
    Berdasarkan 2 hadits di atas maka ada dua macam bacaan sholawat dalam sholat yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Bacaan tersebut tidak boleh dikurangi dan dilebihkan.

  2. Membaca shalawat di luar shalat. Hukum membaca sholawat ini adalah sunnah.
    Membaca sholawat sama artinya dengan membaca do’a karena sholawat artinya Do’a, maka mengucapkan sholawat diluar sholat sama seperti mengucapkan doa, yaitu harus ikhlas semata-mata mencari ridla Allah, dengan berbisik dan lemah lembut, tidak dengan suara yang keras, sebagaimana firman Allah Swt:وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ. [الأعْراف (205.Artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” [QS. al-A‘raf (7): 205].Dalam suatu hadits disebutkan pula sebagai berikut:

    عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ فِي سَفَرٍ. فَجَعَلَ النَّاسُ يَجْهَرُونَ بِالتَّكْبِيرِ. فَقالَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم: أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ. إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِباً. إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعاً قَرِيباً. [رواه البخاري]

    Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: Kami pernah bersama Nabi SAW dalam suatu perjalanan, kemudian orang-orang mengeraskan suara dengan bertakbir. Lalu Nabi SAW bersabda: Wahai manusia, rendahkanlah suaramu. Sebab sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada (Tuhan) yang tuli, dan tidak pula jauh, tetapi kamu sedang berdoa kepada (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat.” (HR. Muslim, No. 44/2704)

    Di dalam Firman Allah SWT surat al-A’raf ayat 205, Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin agar berdoa dan berzikir dengan merendahkan diri dan tidak mengeraskan suara. Demikian pula hadits yang diriwayatkan Abu Musa, menegaskan agar merendahkan suara dalam berdoa kepada Allah, sebab Allah SWT tidak tuli dan tidak jauh, melainkan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Lafadz sholawat di luar sholat tidak diatur, sama halnya seperti berdo’a, maka boleh menggunakan lafadz apa saja yang dipahami, namun begitu menggunakan lafadz yang dicontohkan oleh Nabi SAW seperti dalam sholat adalah lebih baik.

2. Syafaat (Syafa‘atul Uzhma)

Syafa‘atul ‘Uzhma adalah pertolongan atau pengampunan yang diberikan oleh Allah Swt kepada sebagian manusia di akhirat nanti. Pengampunan ini diberikan dengan cara memberikan izin kepada Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakannya. Pada saat itu, konon umat manusia akan berada dalam kebingungan dikarenakan kesalahan dan khilaf mereka selama hidup di Dunia. Semua umat manusia akan mencari pertolongan agar terhindar dari azab Allah SWT. Maka umat manusia akan mendatangi para nabi untuk meminta syafa’at (pertolongan). Para Nabi menyatakan bahwa mereka tidak sanggup melaksanakannya. Akhirnya atas petunjuk Nabi Isa as, umat manusia disarankan untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW agar beliau memohon kepada Allah Swt sehingga derita yang mereka tanggung itu hilang dan tidak bingung lagi. Setelah Nabi Muhammad SAW berdoa, maka Allah Swt mengabulkannya dengan memberi izin kepada beliau untuk memberi syafa‘at (pertolongan) kepada mereka yang dipilih oleh Nabi SAW berdasarkan izin dari Allah SWT, maka Nabi Muhammad SAW akan membebaskan orang-orang yang beriman dari derita itu dan memasukkan mereka ke dalam surga, sedang orang-orang kafir dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ لَوْ اسْتَشْفَعْنَا عَلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ الَّذِي خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّنَا فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ وَيَقُولُ ائْتُوا نُوحًا أَوَّلَ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللهُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا إِبْرَاهِيمَ الَّذِي اتَّخَذَهُ اللهُ خَلِيلاً فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا مُوسَى الَّذِي كَلَّمَهُ اللهُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ فَيَذْكُرُ خَطِيئَتَهُ ائْتُوا عِيسَى فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُونِي فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي فَإِذَا رَأَيْتُهُ وَقَعْتُ سَاجِدًا فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ يُقَالُ لِي ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَحْمَدُ رَبِّي بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنِي ثُمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا ثُمَّ أُخْرِجُهُمْ مِنْ النَّارِ وَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ ثُمَّ أَعُودُ فَأَقَعُ سَاجِدًا مِثْلَهُ فِي الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ حَتَّى مَا بَقِيَ فِي النَّارِ إِلاَّ مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ. [رواه البخاري ومسلم].

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: berkata Rasulullah SAW: Nanti Allah akan mengumpulkan manusia di hari kiamat, lalu mereka berkata, seandainya ada orang yang memohonkan syafaat kepada Tuhan kami untuk kami sehingga kami terbebas dari keadaan kami ini. Lalu mereka datang kepada Nabi Adam, mereka berkata: Engkaulah orang yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya (langsung) dan meniupkan kepada engkau ruh dari-Nya dan memerintahkan malaikat, lalu mereka sujud kepada engkau, maka berilah kami syafaat yang berasal dari Tuhan kami. Adam menjawab: bukan aku yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Adam berkata: datanglah kepada Nuh Rasul yang pertama kali diutus Allah. Lalu mereka datang kepada Nuh dan Nuh menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Datanglah kepada Ibrahim orang yang dijadikan Allah teman-Nya. Lalu mereka datang kepada Ibrahim dan Ibrahim menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Datanglah kepada Musa orang yang pernah berbicara dengan Allah. Lalu mereka datang kepada Musa dan Musa menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, sambil menyebut kesalahan-kesalahannya. Datanglah kepada Isa dan Isa menjawab: aku bukanlah orang yang dapat memberikannya, datanglah kepada Muhammad SAW, karena sesungguhnya Muhammad telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Mereka pun mendatangiku, maka aku pergi minta izin kepada Tuhanku. Maka ketika aku melihat-Nya aku segera sujud, Ia membiarkanku sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Kemudian dikatakan: Angkatlah kepala engkau, mintalah pasti diberi, katakanlah niscaya akan didengar, mintalah syafaat pasti diberi. Lalu aku mengangkat kepalaku, lalu aku memanjatkan pujian kepada Tuhanku sesuai dengan yang diajarkan kepadaku, kemudian aku diizinkan memberi syafaat kepada orang-orang tertentu. Kemudian aku keluarkan mereka dari neraka dan aku masukkan ke dalam surga. Kemudian aku kembali menyatakan dan bersujud seperti semula, kemudian ketiga dan keempat, sehingga yang tinggal dalam neraka adalah orang yang tidak percaya dan menantang al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Di samping hadits di atas, ada lagi beberapa hadits shahih yang menerangkan tentang syafaat itu dan isinya sama dengan isi hadits di atas.

Dari penjelasan hadits di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Hak memberi syafaat itu hanya ada pada Allah, sebagai yang ditegaskannya:

    مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. [البقرة (255).

    Artinya: “Siapakah yang dapat memberi syafa‘at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. al-Baqarah (2): 255).

  2. Pada hari kiamat Nabi Muhammad SAW diberi izin oleh Allah untuk memberi syafa’at kepada sebagian manusia sesuai pilihan Nabi SAW dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
    Di antara yang diberi syafaat itu ialah orang-orang yang mencintai Nabi SAW dan beriman kepada al-Qur’an serta tidak menentangnya. Wallohu a’lam bishowab.

Membaca sholawat menjadi salah satu bukti cinta kita kepada Nabi SAW. Kita wajib mencintai Nabi SAW, karena beliaulah yang telah membawa kita ke jalan Allah SWT. Orang yang membaca sholawat pasti orang yang mencintai Nabi SAW, tidak mungkin orang yang membencinya. Oleh sebab itu kita disarankan untuk senantiasa bersholawat kepada Beliau, kapan pun dan dimanapun (bukan hanya dalam ceremoni atau ketika susah saja) sesuai dengan firman Allah di atas (Al-Ahzab:56). Tentunya cara bersholawatnya harus dengan cara yang baik dan benar serta tidak berlebihan. Ketika bersholawat, maka harus disertai dengan mengingat perjuangan Nabi SAW seperti halnya Beliau selalu mengingat umat-umatnya. Nabi SAW selalu sayang kepada umatnya bahkan sampai akhir hayatnya yang diingat adalah umatnya, maka kita pun harus membuktikan rasa sayang kepada Beliau, diantaranya dengan senantiasa bersholawat dan mengikuti sunnahnya.

Di Masyarakat, kemudian berkembang syair-syair untuk memuji Nabi SAW, oleh sebagian bahkan sering diadakan acara sholawatan tetapi kadang kala dilakukan dengan berlebihan bahkan sambil dikeraskan. Sesungguhnya kegiatan seperti ini diawali semenjak zaman Sholahuddin Al-Ayyubi. Ketika itu kaum muslimin membutuhkan motivasi dalam berperang (perang salib). Karena bertepatan dengan bulan Rabiul awwal (bulan kelahiran Nabi) maka, Solahuddin al-Ayyubi memiliki ide untuk merayakan hari kelahiran Nabi SAW, yang kemudian dikenal dengan istilah Mauludan. Rangkaian acara tersebut diantaranya dilakukan dengan membuat sayembara untuk membuat syair-syair untuk mengingat perjuangan Nabi saw agar kaum muslimin semakin mencintai Nabi SAW dan mendapat motivasi untuk berperang. Syair-syair tersebut kemudian berkembang bahkan dijadikan sebagai bacaan dalam ceremoni sholawatan. Jadi sholawatan seperti itu sesungguhnya bukan bagian dari Ibadah tetapi hanya ceremoni saja, bahkan bisa disebut kegiatan kesenian saja. Wallohu a’lam bishowab.

Seputar Yasinan dan Membaca al-Qur’an Secara Berjamaah

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan.

Kegiatan Yasinan dan membaca al-Qur’an secara bersamaan (berjamaah) dapat kita temui di berbagai tempat dan acara. Acara-acara seperti ini terkadang menimbulkan pertanyaan, apakah hal tersebut dicontohkan oleh Nabi SAW atau tidak. Untuk itu berikut ini sedikit pembahasan tentang hal tersebut.
Read the full post »

Pengajian Bulughul Maram, Kitab Thaharah, Bab Wudhu (Bag. 2)

Video rekaman pengajian Kitab Kuning (Bulughul Maram) Bagian 2 oleh Ust. Maemun Fauzi.
Read the full post »

Tausyiah Aa Gym di KJRI Hamburg

Dalam rangka kunjungan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di Jerman, pada hari Sabtu, 18 Februari 2012, beliau menyempatkan untuk memberikan tausyiah di Konjen RI di Hamburg.

Klik di sini untuk melihat video rekaman tausyiah beliau.

Video direkam oleh Sdr. Riza Y Setiawan.

Pengajian Bulughul Maram, Kitab Thaharah, Bab Wudhu (Bag. 1)

Video rekaman pengajian Kitab Kuning (Bulughul Maram) Bagian 1 oleh Ust. Maemun Fauzi.
Read the full post »

Petunjuk Al-Qur’an Tentang Makhluk Berakal di Luar Planet Bumi

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan
Read the full post »

Renungan Tentang Ujian di Dunia

Oleh: Ibu Dewi Iskandar
Read the full post »

Kelelahan Yang Disukai Allah dan Rasul-Nya

Oleh: Ibu Dewi Iskandar
Read the full post »

Tentang Membaca Al-Qur’an

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan
Read the full post »