Posisi Air, Hutan, Minyak dan Qiyas Telekomunikasi dalam Perspektif Fiqh

Penulis: Bpk. Maemun Fauzi
Sumber: pelita.co.id

Belakang ini, banyak kasus class of power antara massa (rakyat) versus polisi, yang bermula pada kebijakan “ngawur” terkait ijin perkebunan dan pertambangan, dan naasnya pihak rakyatlah yang menjadi korban. Bagaimana fiqh memandang hal ini, tafaddol menyimak tulisan dibawah ini:
—————————————–

Posisi Air, Hutan, Minyak dan Qiyas Telekomunikasi dalam Perspektif Fiqh

“Almuslimuna syuroka’u fi tsalatsatin, fil ma’i, wal kalai wan nari” (orang-orang Islam berserikat dalam tiga hal, air, tempat penggembalaan (rumput) dan api. (HR Abu Daud).

Hadits di atas menerangkan bahwa air, rumput dan api adalah hak milik bersama dan menjadi kewajiban negara untuk melindungi, mengawasi dan mendayagunakannya untuk kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD 45. Karenanya, tidak ada seorangpun – Presiden, Menteri atau DPR sekalipun – berhak menentukan kepemilikan, apalagi sampai menjualbelikan sumber-sumbernya.

Adalah menjadi sebuah ironi ketika UU Sumber Daya Air disahkan oleh DPR, yang nota bene representasi rakyat. Bagaimana mungkin, sebuah undang-undang dibuat hanya untuk membuka peluang kepada pihak swasta yang dikuasai kapitalisme global dan corporate asing, guna memiliki dan menguasai hak publik rakyat berupa sumber daya air. Apalagi lahirnya undang-undang tersebut – disinyalir – merupakan barter atas utang 300 juta dolar AS dari Word Bank dalam program Watsal (Water Resources Sector Adjusment Loan) (Muhammad Abbas Aulia, Republika Mei 2004).

Iyyas Al Muzanni meriwayatkan, bahwa dia pernah melihat orang-orang menjual air. Kemudian ia berkata: Janganlah kalian menjual air, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah mencegah memperjualbelikan air. Karenanya, berdasar hadits diatas menurut fiqh Islam UU Sumber Daya Air adalah batal dari segi hukum. Sebab sumber air – di dalamnya sungai, mata air, hujan dan laut – dilarang untuk dijual dan dimiliki oleh elemen manapun baik pribadi atau perusahaan. Bahkan dalam keadaan darurat (baca: krisis air), maka siapapun berkewajiban memberikan air dengan tanpa memungut bayaran. (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, 1998).

Setali tiga uang dengan air, adalah api. Yang dimaksud oleh hadits tentang api menurut ulama fikih adalah sumber-sumber energi bahan bakar, yang terdiri dari minyak, batu bara, gas bumi, dan juga uranium. Tentu, menyerahkan kepemilikan sumber-sumber energi tersebut kepada pihak swasta dengan melupakan kepentingan rakyat adalah terlarang. Karena sudah menjadi rahasia umum, bahwa swasta itu lebih mementingkan valuenya daripada corporate responsibilty-nya. Stiglis berkata, tak ada bahasa nasionalisme dalam bisnis, yang ada adalah bahasa profit.

Karenanya, menurut paradigma fiqh, sangat beralasan bila proyek-proyek minyak seperti penunjukan Exxon Mobil di Block Cepu, CNOOC Southeast Sumatra Ltd di lepas pantai utara pulau Jawa, Kuwait Petroleum Corporation di Buton dan Block Seram, ConocoPhillips Indonesia di Natuna, Nila, Ketapang, dan Block A Aceh serta beberapa perusahan asing lainnya, perlu ditinjau ulang kembali. Apalagi menurut Baihaqi Hakim, skill SDM Indonesia dan kemampuan perusahan minyak dalam negeri – Pertamina – sebenarnya mampu baik dari teknologi maupun pendanaan. (Gatra 2004). Hanya faktor keberanian sajalah yang diperlukan. Kiranya kita perlu belajar kepada Presiden Venezuela Hugo Chavez yang ‘menendang’ Exxon dan CoconoPhilips serta mempercayakan pengelolaan minyak ke perusahaan dalam negerinya, yang berujung kepada meningkatnya PDB rakyat Venezuela dan posisi tawarnya di dunia internasional.

Terkait dengan rumput, Imam Syaukani dalam kitab Nailul Authaar, berkata bahwa termasuk rumput adalah gunung, bukit, lembah, hutan rimba dan padang rumput itu sendiri. Karenanya hak-hak penguasaan hutan harus tetap terletak pada negara dan kalaupun harus diberikan pengelolaan kepada perusahaan, juga mengacu kepada kepentingan umum, dengan tanpa melupakan akan kelestariannya. Upaya penegakan hukum, perbaikan sistem pengelolaan dan revitalisasi sistem pelestarian hutan, tak perlu lagi menunggu adanya konferensi global warming seperti yang dilakukan di Bali saat ini.

Telekomunikasi, sebuah analogi (qiyas) fikih
Bicara akan urgensi air, api dan rumput bagi kehidupan, sama pentingnya dengan posisi telekomunikasi dalam kehidupan. Telekomunikasi amat layak untuk dilakukan qiyas (analogi) sebagaimana garam dengan air, api dan rumput. Alasannya adalah pertama, karena ruang lingkup komunikasi dari sekala pribadi, kelompok bahkan negara. Ia begitu penting posisinya dalam dunia bisnis, pemerintahan, ekonomi, dan sosial.

Kedua, dunia telekomunikasi mempunyai nilai strategis yang tatarannya lebih luas. John Naisbit maupun alvin Tofler pernah meramalkan dunia abad 21 adalah dunia industri dan telekomunikasi. Karenanya menguasai telekomunikasi, berarti menguasai sisi lain dari dunia. Dan ketiga, karena telekomunikasi juga erat kaitannya dalam dunia pertahanan dan keamanan. Menguasa telekomunikasi sebuah negara, berarti juga mampu membaca info-info terpenting rahasia dari negara.

Karenanya ittifaq ulama (keputusan ulama) salaf yang menetapkan segala jenis tambang di bumi adalah milik negara, termasuk tambang garam yang memiliki deposit tinggi. Maka adalah telekomunikasi pun patut pula dipertimbangkan untuk dianalogikan pula dengan air, api dan rumput. Karenanya patutlah dicontoh sebuah hadits, Rasulullah pernah menarik kembali tambang garam yang semula diberikan kepada Abidh bin Hamal al-Mazani, setelah Rasul mengetahui bahwa depositnya laksana air yang mengalir. (HR Abu Daud). Kiranya tak berlebih bila dikatakan bahwa keputusan KPPU (komisi pengawasan persaingan usaha) tentang denda kepada Temasek, pelepasan saham di Telkomsel dan penurunan tarif sebesar 15 persen, yang berujung kepada pelarangan monopoli akan telekomunikasi, patut kita dukung.

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: