Diskusi Tentang Mengucapkan Selamat Natal

Disarikan oleh: Ibu Ummi Pujianto

Mas Hawis bertanya :
“Assalamualaikum..
Saya sedang berdiskusi dengan istri tentang hukum pengucapan selamat perayaan natal. Apakah haram atau dibolehkan. Istri saya berpendapat bahwa itu haram. Karena dengan mengucapkan selamat berarti mengakui adanya atau eksistensi agama atau keyakinan mereka. Tapi kondisi sekarang, kita pasti mempunyai kerabat dekat (teman kuliah, teman kerja, atau tetangga, dan lainnya) yang beragama nasrani. Bagaimana seharusnya kita bersikap dengan menjaga silaturahim sesama manusia (hablum minan naas) tetapi tidak melanggar aturan Allah.”

Pak Yudi menjawab :
“Setiap tahun masalah ini akan menjadi perdebatan. Ibnu Taimiyah dan muridnya yaitu Ibnu Qoyim al-jauziyah adalah termasuk madzhab Hambali. Madzhab ini yang menjadi acuan di Saudi Arab saat ini dan sangat keras terhadap maslah aqidah, oleh sebab itu mengharamkan pengucapan selamat natal.
Buya Hamka pada tahun 1981 juga mengharamkan pengucapan selamat Natal karena pada saat itu (Orde Baru) terjadi kondisi yang memprihatinkan tentang kehidupan beragama yaitu terjadinya campur aduk dalam masalah keagamaan, hal ini karena terdapat program merayakan natal bersama yang digagas oleh Pemerintah Orde Baru.

Sedangkan yang membolehkan pengucapan Selamat natal, diantaranya Syekh Yusuf Al-Qardawi, dan Muhammad Rasyid Ridlo. Keduanya adalah ulama lintas Madzhab (non partisan). Ketiganya membolehkan karena melihat kondisi kehidupan beragama (nasrani) di Eropa. Ketiganya lama tinggal di Eropa dan melihat bahwa perayaan natal dianggap sebagai budaya saja. Sehingga pengucapan natal bukan berarti mengakui kelahiran Nabi Isa pada tanggal 25 Desember, tetapi sebtasa toleransi. Disamping itu juga melihat sejarah bahwa Nabi Muhammad Saw pernah mempersilahkan penggunaan Masjid Nabawi untuk kegiatan Misa bagi penganut nasrani nadzran.

Diantara dua pendapat di atas ada kelompok yang ketiga, yang lebih moderat, diantaranya syekh Muhammad Abduh. Pendapat ini memakruhkan pengucapan selamat natal tetapi membolehkan pengucapan selamat merayakan natal dan selamat tahun baru.

Ketiga pendapat di atas adalah berdasarkan ijtihad, jadi bisa salah dan juga bisa benar. Ijtihad juga akan sangat tergantung pada situasi dan kondisi. Oleh sebab itu dalam prakteknya akan sangat tergantung pada situasi dan kondisi kita. Dalam kondisi tertentu bisa Haram, makruh atau mubah (boleh). Wallohu a’lam bishowab.”

Mbak Eny bertanya juga :
“Gimana hukumnya kalo kita ngebalas hadiah lg yg diberikan beberapa hari sebelum Natal ? karna pd event ini kami selalu dihadiahin dari pihak teman, tetangga atau Relasi ? karna lama2 “isin” jg kalo dikasih gak ngebalas. Syukron Pak Yudi…….”

Pak Yudi menjelaskan lagi :
“Sama halnya dengan mengucapkan selamat natal, maka untuk menjawab pasti bagaimana hukum memberikan hadiah kepada ummat kristiani, mesti memastikan terlebih dahulu apakah hadiah itu bagian dari ritual agama atau hanya tradisi?
Jika memberi hadiah itu bagian dari ritual agama dengan segala tetek bengeknya termasuk menjadi entri point untuk ajaran-ajaran kristiani lainnya maka “memberi hadiah” tidak boleh dilakukan. Namun jika memberi hadiah itu hanya bagian dari tradisi yang diciptakan sebagaimana halnya syawalan atau muludan misalnya, tentu saja hukumnya berbeda, artinya diperbolehkan. Di atas semua ini tentu tidak mengurangi keharusan kita untuk bertoleransi kepada saudara-saudara kita merayakan keyakinan agamanya”
“Tentang tahun Masehi, saya menganggap itupun tahun milik umat islam. Karena di dalam al-qur’an terdapat jumlah kata “yaum (hari bentuk tunggal) ditambah Ayyam (hari bentuk jamak) sebanyak 365, persis jumlah hari dalam tahun masehi. Dan jumlah Ayyam (hari dalam bentuk jamak) sebanyak 30, pertemuan jumlah hari dalam satu bulan dalam tahun hijriah dan masehi.”

Mbak Dian ingin tahu :
“Tanya jga Pak, kalau diundang makan bersama baiknya bagaimana Pak?, kebetulan ybs supervisor, alasannya mengundang kumpul dan makan bersama anak2 bimbingnya di rumah beliau, nuhun.”

Mbak Evy memaksa :
“tanya jga Pak, kalau diundang makan bersama baiknya bagaimana Pak?, kebetulan ybs supervisor, alasannya mengundang kumpul dan makan bersama anak2 bimbingnya di rumah beliau, nuhun.”

Pak Yudi terpaksa :
“Hehehehehe…maksa!! Selama di Eropa saya cenderung menjadi orang yang moderat, sehingga pada teman kantor saya ucapkan “Enjoy christmas holiday and happy new year”. Begitu pula dengan tukar-tukaran hadiah, hanya sebatas tradisi dan bukan ritual keagamaan.”

Pak Candra menutup :
“Setahu saya hukumnya sangat dilarang. Yang penting jangan sampai meyakini hari perayaan mereka / ajaran mereka. Partisipasi menurut saya oke2 aja, kembali lagi jangan dihayati. Lho saya saja menerima Weihnachtsgeld dari perusahaan, di Indonesia istilahnya THR, tetapi Kantor Pajak Jerman khan tidak mengerti THR, taunya Weihnachtsgeld. Ini pun budaya nya mereka, tidak tercantum pada Bibel. So, easy2 saja melihatnya, jangan goyang dari jalur agama kita. Insya Allah…..”

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: