Tentang Iman

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan.

Berdasarkan pengertian bahasa, maka Iman bersasal dari kata Aamana – Yu’minu – Iimaanan (bentuk isim masdar), yang artinya percaya.

Berdasarkan istilah maka:

Berikut ini hadits dari shahabat ‘Umar r.a: “ Saat kami duduk pada suatu hari bersama-sama Rasulullah s.a.w. datanglah seorang laki-laki, putih bersih pakaiannya, hitam bersih rambutnya, tak terkesan padanya tanda orang yang sedang bepergian dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya; kemudian ia bersimpuh dihadapan Nabi dengan merapatkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya pada paha Nabi. Lalu ia berkata: ”Hai Muhammad, terangkanlah padaku tentang Islam!”. Nabi menjawab: ”Islam ialah engkau mempersaksikan: tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan pergi Haji bila kamu mampu melakukannya”. Kata orang itu: ”Benar engkau”. Maka kami terheran, kenapa ia bertanya lalu ia membenarkan. Orang itu bertanya lagi: terangkanlah padaku tentang Iman!” Nabi menjawab: “Iman ialah bahwa engkau percaya akan Allah, malaikatnya, kitab-kitab-nya, Rasul-rasulnya, hari kemudian dan percaya akan takdir baik dan takdir buruk”. Orang itu berkata :” Benar engkau!”.(Hadist riwayat Muslim).

Menjelaskan Iman sesuai dengan rincian hadits di atas pasti akan panjang. Karena berarti ada 6 penjelasan mengenai Iman. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari paling tidak sebagai berikut:

  1. Bahwa kita wajib percaya akan hal yang di bawa oleh Nabi s.a.w. yakni Al-Qur’an dan berita dari Nabi s.a.w yang mutawattir dan memenuhi syarat-syaratnya. Tidak boleh menambah – atau mengurangi keterangan yang mutawatir itu dengan keterangan berdasarkan pertimbangan (perkiraan), emosi atau perasaan, karena firman Allah:“Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (Surat Yunus:36).
    Begitu pula peringatan Allah terhadap ahlul kitab di dalam surah al-maidah 77, karena mereka senantiasa berlebih-lebihan dalam agama (Ghuluw), yaitu yang memahami agama karena emosi atau perasaan.
  2. Iman menjadi “mulur – mungset” adalah wajar dalam kehidupan sehari-hari. Karena Allah menciptakan manusia yang berasal dari kata Nasia – Yansa – Insaanan, yang artinya pelupa. Allah juga akan senantiasa memberikan ujian dan cobaan untuk mengukur keimanan hamba-hambanya. Tip dari Sayyidina Umar ra. untuk menjaga Iman adalah dengan memperbanyak istighfar (memohon ampun). Atau dengan membiasakan pengucapan kalimat tentang Allah, sehingga kalau kita latah maka yang terucap adalah kalimat Allah bukan kalimat yang lain apalagi yang jorok.
  3. Salah satu riwayat yang lain juga menyebutkan cara untuk menjaga iman adalah dengan cara, senantiasa memiliki wudlu, memperbanyak membaca al-Qur’an, dan senantiasa menolong orang lain.
  4. Salah satu cara untuk melihat tingkat keimanan seseorang adalah dengan melihat firasatnya. Semakin tinggi Iman seseorang maka semaik kuat firasatnya, karena firasat tersebut pada akhirnya seperti cahaya dari Allah. Sebagaimana hadits sbb: Ikhdiruu bifirosatil mu’miniin fainnahum yandzuruun binnurillah. (kalau tidak salah riwayat Nasai), yang artinya: Hati-hatilah kamu sekalian dengan firasatnya orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya mereka melihat dengan cahaya Allah.

Wallohu a’lam bis showab
Mudah-mudahan bermanfaat

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: