Emas dan Perak

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan

Perihal keharaman emas sebagai perhiasan bagi pria adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Nasai, yaitu:
Rasulullah S.A.W. bersabda: ”Dihalalkan emas dan sutera bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan kepada kaum prianya”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasai).

Sedangkan keharaman menggunakan emas dan perak untuk tempat makanan dan minuman, adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, yaitu:
Rasulullah S.A.W. bersabda: ”Sungguh orang yang makan dan minum dengan tempat yang dibuat dari emas dan perak, adalah sesungguhnya dalam perut orang itu api neraka yang bersuar mendidih menggelegak” (Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim).

Hukum menggunakan perak sebagai cincin adalah mubah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh lima ahli hadits, yaitu:
Dari Anas berkata, bahwa Rasulullah S.A.W. menulis surat, maka Beliau diberitahu bahwa mereka itu tidak suka membaca surat melainkan yang dicap. Maka Beliau membuat cincin dari perak dan diukirnya. “Muhammad Rasulullah”. Dan bersabda kepada orang banyak: ”Sesungguhnya kami membuat cincin dari perak yang kami ukir “MuhammadRasulullah”, maka janganlah ada seseorang yang mengukir seperti ukiran itu.”
Riwayat lain, bahwa Rasulullah saw memakai cincin perak pada tangan kanannya, yang mana permata cincinnya itu dari Habsyi. Permata itu dihadapkan beliau kearah telapak tangannya. (Hadits ini diriwayatkan oleh lima ahli Hadits).

1. Pengertian hadits di atas adalah dibolehkannya menggunakan cincin (dan perhiasan lain) yang terbuat dari perak bagi laki-laki, karena Rasulullah S.A.W. juga punya cincin yang terbuat dari perak yang berfungsi juga sebagai cap kenegaraan. Pada zaman itu sudah umum jika setiap kepala negara memiliki cap kenegaraan yang terbuat dari cincin. Cincin Nabi tersebut saat ini ada di Museum Topkapi (Istanbul)

2. Nabi melarang sahabat lain mengukir “MuhammadRasulullah” pada cincinya (jika ada yang punya cincin) untuk menghindari terjadinya pemalsuan cap kenegaraan bukan karena masalah Syar’i.

3. Kondisi saat ini sudah berbeda, sehingga tidak masalah jika seseorang memiliki cincin atau perhiasan lain yang berukiran “Allah, Muhammad, atau Muhammad Rasulullah”. Dalam kata lain mubah (boleh).

4. Hadits tersebut adalah salah satu contoh memahami hadits bil illat (memahami hadits dengan melihat kondisi dan sebabnya). Sesuai kaidah yang telah dibuat oleh para ulama ushul fiqh yang telah saya sampaikan sebelumnya.

5. Ibnu Umar (sahabat Nabi saw) juga berpendapat bahwa setiap larangan Nabi saw tidak jatuh kepada hukum Haram, hukumnya hanya sampai Makruh (sesuai kondisi). Karena yang berhak mengharamkan hanyalah Allah SWT (Tahrimuhu lillah).

Demikian wallohu a’lam bishowab

Tambahan:
Sehingga untuk para ibu (kaum perempuan) tidak masalah memiliki bross, cincin atau perhiasan lain yang terbuat dari apapun baik emas, perak, besi, alumunium dll yang terdapat ukiran Allah, Muhammad, bahkan MuhammadRasulullah.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: