Perihal Donor Organ

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan

Secara spesifik tidak diatur tentang tranplantasi atau donor organ di jaman Nabi saw. Yang ada hanya mengatur tentang air susu ibu dan sperma, diantaranya hadist sbb:

Rasulullah bersabda, “Diharamkan dari saudara sesusuan segala sesuatu yang diharamkan dari nasab”.( HR. Bukhari dan Muslim )
Aisyah r.a mengatakan, Muhammad Rasulullah Saw bersabda : ” Haram menikah karena sesusuan, semua yang diharamkan karena sekandungan” (HR.Muslim)
Sebab sepersusuan dapat menjadikan muhrim sebagaimana muhrim disebabkan kelahiran” (HR. Lima Ahli Hadits)
Hadits ini menunjukan bahwa asal muasal air susu ibu yang diminum oleh bayi harus jelas, karena air susu tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi muhrim alias tidak boleh menikah sesama saudara sesusuan. Oleh sebab itu air susu dan sperma tidak boleh diperjual-belikan secara bebas. Bahkan Madzhab Syafii menyatakan haram hukumnya seorang suami menyusui (menetek) pada istrinya.

Sehingga segala sesuatu yang belum diatur di jaman Nabi atau para sahabat, maka dikembalikan kepada kaidah sunnah, diantaranya sebagai berikut:
النظر فيما بني من الأحاديث على أسباب خاصة أو ارتباط بعلة معينة، منصىص عليها في الحديث أو مستنبطة منه، أو مفهومة من الواقع الذى سيق فيه الحديث.
فالناظر المتعمق يجيد أن من الحديث ما بني على رعاية ظروف زمانية خاصة ليحقق مصلحة معتبرة أو يدرأ مفسدة معينة، أو يعالج مشكلة قائمة، في ذالك الوقت. و معنى هذا أن الحكم الذي يحمله الحديث قد يبدو عاما و دائما ولكنه عند التأمل مبني على علة، و يزول بزوالها، كما يبقى ببقائها.

Yusuf al-Qardhawi, al-Madkhal li al-al Dirasat Sunnah (pengantar memahami sunnah/hadits)
Inti terjemahannya sbb:
Menurut Al-Qardhawi, dalam memahami hadis nabi, dapat memperhatikan sebab-sebab atau latar belakang diucapkannya suatu hadis atau terkait dengan suatu illat tertentu yang dinyatakan dalam hadis, atau dipahami dari kejadian yang menyertainya. Hal demikian mengingat hadis nabi dapat menyelesaikan problem yang bersifat lokal, partikular, dan temporer. Dengan mengetahui hal tersebut seseorang dapat melakukan pemahaman atas apa yang bersifat khusus dan yang umum, yang sementara dan abadi. Dengan demikian, menurut Al-Qardhawi, apabila kondisi telah berubah dan tidak ada illat lagi, maka hukum yang berkenaan dengan suatu nas akan gugur dengan sendirinya. Hal itu sesuai dengan kaidah hukum berjalan sesuai dengan illatnya, baik dalam hal ada maupun tidak adanya. Maka yang harus dipegang adalah maksud yang dikandung dan bukan pengertian harfiyahnya.
Menurut Al-Qardhawi, sunnah nabi mempunyai 3 karakteristik, yaitu komprehensif (manhaj syumul), seimbang (manhaj mutawazzun), dan memudahkan (manhaj muyassar). Ketiga karakteristik ini akan mendatangkan pemahaman yang utuh terhadap suatu hadis.
Atas dasar inilah maka Al-Qardhawi menetapkan tiga hal juga yang harus dihindari dalam berinteraksi dengan sunnah, yaitu pertama, penyimpangan kaum ekstrim, kedua, manipulasi orang-orang sesat, (Intihal al-Mubthilin), yaitu pemalsuan terhadap ajaran-ajaran Islam, dengan membuat berbagai macam bid’ah yang jelas bertentangan dengan akidah dan syari’ah, dan ketiga, penafsiran orang-orang bodoh (ta’wil al-jahilin). Oleh sebab itu, pemahaman yang tepat terhadap sunnah adalah mengambil sikap moderat (wasathiya), yaitu tidak berlebihan atau ekstrim, tidak menjadi kelompok sesat, dan tidak menjadi kelompok yang bodoh.
Oleh sebab itu berdasarkan kaidah fiqh tersebut maka hukum asal donor organ adalah mubah seperti halnya donor darah, selama memenuhi kaidah:
1. Tidak boleh menghilangkan bahaya dengan menimbulkan bahaya lainnya, artinya :
a. Organ tidak boleh diambil dari orang yang masih memerlukannya;
b. Sumber organ harus memiliki tamlik at-taam/Hurriyatu At-Tasharruf (kepemilikan penuh) atas organ yang diberikannya, beraqal, baligh, ridlo dan ikhlas dan tidak mudlarat bagi dirinya.
c. Sumber organ harus suci semisal manusia atau binatang selain babi dan anjing.
2. Tindakan tranplantasi mengandung kemungkinan sukses lebih besar dari kemungkinan gagal.
3. Organ manusia tidak boleh diperjual belikan sebab manusia hanya memperoleh hak memanfaatkan dan tidak sampai memiliki secara mutlak.
4. Tidak boleh merusak aqidah
5. Tidak boleh mengurangi/menghilangkan martabat Marusia
6. Tidak boleh mendahulukan kepentingan perorangan diatas kepentingan umum
7. Tidak boleh melanggar moralitas Marusia

Berikut fatwa dari Syekh Yusuf al-Qardhawi tentang donor organ:
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Cangkok2.html

Tambahan:
Jadi yang diatur itu hanya sperma dan air susu ibu saja. Diluar itu tidak dijelaskan. Sehingga, masalah-masalah seperti itu dikembalikan kepada kaidah asal tentang fiqh atau sunnah. Segala sesuatu, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar maka hukumnya boleh atau mubah. Saya mohon maaf jika dalam keterangan di atas saya masukan sedikit tentang kaidah-kaidah sunnah menurut Syekh Yusuf Qardhawi, bukan untuk memusingkan. Tetapi kaidah-kaidah seperti itu (ushul fiqh) kadang kala diperlukan terutama dalam memahami hadits atau masalah yang tidak terjadi di jaman Nabi. Walaupun agak melebar tapi mudah-mudahan bisa sedikit membantu. Wallohu a’lam bishowab.

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: