Tentang Membaca Al-Qur’an

Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan

Al-Qur’an adalah firman Allah swt sekaligus mu’jizat terbesar sepanjang sejarah. Oleh sebab itu membaca dan memahaminya menjadi sebuah kegiatan ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Saw. Dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda: Seorang yang ahli dalam al-Qur’an akan berada (di surga) di kalangan malaikat-malaikat pencatat yang mulia dan lurus, dan seorang yang tidak lancar (tersendat-sendat) di dalam membaca al-Qur’an sedang ia bersusah payah mempelajarinya, akan mendapat pahala dua kali lipat (HR. Bukhori, Muslim, Nasai, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

1. Mengenai sikap dan bacaan sebelum membaca Al-Qur’an dijelaskan dalam firman Allah swt di dalam surat an-Nahl ayat 98: “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk”. Ayat ini menjelaskan keharusan seorang muslim membaca “Istiazah/Ta’awudz” baik dikeraskan atau di dalam hati sebelum membaca Al-Qur’an.

2. Nabi saw membaca Basmalah (Bismillahirahmaanirohim) setelah istiazah ketika membaca di permulaan (awal) surat, kecuali surat At-Taubah. Tidak dicontohkan membaca Basmalah ketika membaca Al-Qur’an dipertengahan surat.

3. Tidak dicontohkan membaca al-fatihah ketika mengawali membaca al-Qur’an

4. Tidak ada perintah berwudlu dulu sebelum membaca Al-Qur’an.

5. Tidak ada perintah menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an.

Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Hadits tersebut menjelaskan betapa besarnya ganjaran membaca al-Qur’an, setiap huruf yang kita ucapkan mengandung 10 ganjaran.

Lebih lanjut, sesungguhnya adab membaca Al-Qur’an lebih banyak dibuat oleh para ulama karena rasa hormat dan cintanya terhadap Al-Qur’an tetapi kadang kala menjadi berlebihan. Misalnya harus menghadap kiblat, harus wudlu dulu, mencium mushaf, mencuci tangan atau harus dalam keadaan suci dll. Sehingga ada ulama yang berpendapat wanita yang sedang haidl tidak boleh membaca atau menyentuh Al-Qur’an, padahal tidak demikian.

Kalau melihat surat An-Nahl ayat 98, maka adab membaca Al-Qur’an cukup dengan membaca istiazah saja. Baca lalu pahami dan amalkan.

Begitu juga dengan kegiatan mengirim bacaan Al-Qur’an untuk mayit (orang yang sudah meninggal) atau yang masih hidup, seperti mengirim Al-Fatihah untuk si Fulan. Menurut Imam Syafi’i, seperti yang dinukil oleh Ibnu Katsir, maka perbuatan tersebut termasuk kategori bid’ah dan bacaan tersebut tidak akan sampai kepada yang dituju (sia-sia). Lebih baik mendoakan orang lain (yang sudah meninggal atau masih hidup) daripada mengirim bacaan tertentu walaupun dari Al-Qur’an.

Wallohu a’lam bishowab.

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. Reblogged this on HIJAU BUMIKU BIRU LANGITKU and commented:
    Baca Al – Quran

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: